
Dalam rangka pagelaran karya kelas XII sebagai bagian dari ujian praktik umum, kelas kami memilih untuk mengangkat tokoh Katolik bernama Herman Fernandez. Kisah hidup dan pengabdiannya kami tuangkan dalam sebuah drama musikal berjudul “No Greater Love – A Tale of Herman Fernandez.” Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki semangat pelayanan dan pengabdian yang besar bagi masyarakat Indonesia. Melalui pagelaran ini, kami ingin memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut kepada penonton secara kreatif dan reflektif.

Secara keseluruhan, proses persiapan pagelaran ini melalui beberapa tahapan. Tahap awal dilakukan oleh divisi naskah yang menyusun alur cerita berdasarkan perjalanan hidup Herman Fernandez serta pesan yang ingin disampaikan. Setelah itu, dilakukan penentuan tokoh dan pembagian peran yang disesuaikan dengan karakter masing-masing anggota. Selanjutnya, kami memasuki tahap latihan pagelaran yang mencakup latihan akting dan juga tarian pada beberapa adegan tertentu. Di waktu yang bersamaan, divisi properti mulai mengerjakan berbagai perlengkapan pendukung panggung, sedangkan divisi publikasi menyiapkan poster dan feed Instagram untuk pagelaran kami. Menjelang hari pelaksanaan, kami melakukan evaluasi bersama untuk memperbaiki kekurangan, baik dari segi teknis, ekspresi pemain, maupun kelengkapan panggung.

Saya tergabung dalam divisi kostum, dengan tugas membantu menentukan jenis pakaian yang digunakan pada setiap adegan agar sesuai dengan latar waktu, karakter, serta suasana cerita. Namun, saya menyadari bahwa peran saya di divisi ini tidak sepenuhnya maksimal karena saya memiliki jadwal les yang tidak dapat saya tinggalkan. Sebagian besar pengerjaan teknis akhirnya lebih banyak dilakukan oleh teman-teman lain. Untuk mengatasi hal tersebut, saya tetap berusaha berkontribusi dengan aktif berdiskusi melalui grup WhatsApp divisi kostum. Saya ikut memberikan pendapat mengenai konsep pakaian, warna yang sesuai untuk setiap adegan, serta membantu meninjau kembali kesesuaian kostum dengan karakter tokoh. Dengan cara itu, meskipun tidak selalu hadir secara fisik, saya tetap terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Selain itu, saya juga membantu divisi properti dalam proses pengerjaan berbagai perlengkapan panggung sepulang sekolah. Pengerjaan properti menjadi salah satu tantangan tersendiri karena beberapa di antaranya berukuran cukup besar sehingga membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk menyelesaikannya. Selain itu, ada beberapa bahan yang kurang kuat sehingga properti harus diperbaiki beberapa kali. Hal tersebut sempat memperlambat proses pengerjaan. Untuk mengatasinya, kami memperkuat bagian-bagian yang mudah rusak dengan bahan tambahan serta membagi tugas secara lebih terstruktur agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu.
Pada hari pagelaran, saya bertugas di backstage dan membantu divisi tata rias. Saya membantu menghapus dan membersihkan makeup para pemain setelah mereka selesai tampil, serta memastikan wajah mereka bersih dan rapi sebelum kembali ke tempat duduk atau bersiap untuk adegan berikutnya. Walaupun tugas ini tidak terlihat oleh penonton, peran tersebut tetap penting untuk mendukung kelancaran keseluruhan acara.
Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa setiap peran, sekecil apa pun, tetap memiliki arti dalam kerja tim. Saya juga belajar untuk bertanggung jawab, menjaga komunikasi, serta tetap berusaha berkontribusi meskipun memiliki keterbatasan waktu. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya dalam bekerja sama dan mengatasi berbagai tantangan bersama teman-teman.

Frea Renata/XII-C1/16
