30 – Pagelaran Drama “Herman Fernandez – No Greater Love”

Dalam ujian praktik Pagelaran Peserta Didik Kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026, kelas kami mendapat kesempatan untuk menampilkan kisah seorang tokoh Katolik inspiratif. Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya tentang tampil di atas panggung, tetapi tentang memahami nilai kehidupan yang ingin kami sampaikan kepada penonton.

Tokoh yang Diangkat

Kelas saya memilih mengangkat kisah Herman Joseph Fernandez. Tokoh uprakan kelas saya adalah Herman Fernandez. Bagian hidup Herman yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika ia tetap memilih menolong sahabatnya, Alex, yang terluka, meskipun situasi saat itu sangat berbahaya. Ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Keputusan itu menunjukkan keberanian, kesetiaan, dan kasih yang tulus. Dari kisah tersebut, saya belajar bahwa persahabatan sejati bukan hanya tentang kebersamaan saat senang, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap peduli dalam keadaan sulit.

Proses Persiapan

Proses persiapan pagelaran ini berlangsung cukup panjang dan penuh dinamika. Kami memulai dari diskusi kelas untuk memahami kembali kisah Herman dan menentukan bagaimana cerita tersebut akan dibawakan di atas panggung. Setelah konsep disepakati, setiap siswa mendapatkan peran sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

Peran Saya sebagai Choreographer

Dalam ujian praktik ini, saya awalnya dipercaya sebagai choreographer. Tugas saya adalah menyusun rangkaian gerakan yang mendukung suasana dalam beberapa adegan, terutama pada bagian yang membutuhkan penguatan emosi dan ketegangan. Saya mencoba menyesuaikan gerakan dengan alur cerita agar tidak sekadar terlihat menarik, tetapi juga memiliki makna dan mendukung pesan yang ingin disampaikan.

Peran Tambahan di Bagian Kostum

Di tengah proses latihan, saya menyadari bahwa bagian kostum masih belum tertata dengan baik. Beberapa kostum belum lengkap, dan ada kekhawatiran akan mengganggu kelancaran saat hari pementasan. Melihat kondisi tersebut, saya memutuskan untuk membantu. Akhirnya, saya ikut bertanggung jawab dalam divisi kostum tanpa meninggalkan peran saya sebagai choreographer.

Sebagai penanggung jawab kostum, saya membantu menentukan konsep pakaian untuk setiap adegan. Saya menyesuaikan jenis dan warna kostum dengan peran masing-masing tokoh agar terlihat jelas perbedaannya. Selain itu, saya memastikan proses pergantian kostum berjalan tertib dan tidak memakan waktu terlalu lama. Saya juga berusaha mencari pilihan kostum yang sederhana dan terjangkau, tetapi tetap pantas digunakan di atas panggung. Agar tidak terjadi kebingungan, saya mengadakan sesi latihan khusus untuk mencoba kostum sekaligus memastikan semuanya sesuai.

Tantangan dan Pembelajaran

Menjalankan dua tanggung jawab sekaligus tentu bukan hal yang mudah. Ada kalanya saya merasa lelah karena harus membagi fokus antara latihan gerakan dan persiapan kostum. Namun, pengalaman ini justru mengajarkan saya arti tanggung jawab dan kepedulian terhadap tim. Saya belajar bahwa ketika melihat kekurangan, sebaiknya kita tidak hanya menunggu orang lain bertindak, tetapi berani mengambil inisiatif.

Pada akhirnya, pagelaran kami dapat berjalan dengan baik. Lebih dari sekadar hasil akhir, saya merasa bersyukur karena melalui proses ini saya belajar tentang kerja sama, komunikasi, dan semangat melayani. Kisah Herman Fernandez tidak hanya kami tampilkan di atas panggung, tetapi juga kami hidupi melalui usaha dan kebersamaan selama persiapan.

Dokumentasi foto-foto kegiatan:


Categories:

Tags:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *