Sebagai bagian dari ujian praktik Pagelaran Peserta Didik Kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026, setiap kelas diberikan tanggung jawab untuk mengangkat dan mementaskan kisah seorang tokoh Katolik yang inspiratif. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus merefleksikan nilai kehidupan yang dapat diteladani.
Kelas XII C1 yang terdiri dari 39 siswa sepakat memilih kisah hidup Herman Joseph Fernandez sebagai fokus pementasan. Sosoknya dikenal karena keberanian dan ketulusannya dalam mengorbankan diri demi sahabat. Nilai kesetiaan, solidaritas, dan kasih yang ia tunjukkan menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui pertunjukan ini.
Awal Perencanaan
Proses persiapan dimulai sejak Agustus 2025. Pada tahap awal, seluruh siswa berdiskusi untuk menentukan tokoh yang akan diangkat. Setelah melalui pertimbangan matang dan voting bersama, Herman Joseph Fernandez dipilih karena kisah hidupnya dinilai sangat relevan dengan kehidupan remaja saat ini.
Tim kreatif kemudian mulai menyusun konsep pementasan, menentukan sudut pandang cerita, serta merancang alur dramatik yang mampu menggugah emosi penonton. Naskah ditulis berdasarkan berbagai referensi, lalu diuji melalui sesi pembacaan bersama untuk memastikan dialog terasa alami dan mudah dipahami.
Proses Produksi
Selanjutnya, dilakukan pembagian peran melalui proses casting internal. Setiap siswa mendapatkan tanggung jawab, baik sebagai pemeran utama, pemeran pendukung, maupun tim produksi seperti tata panggung, properti, kostum, musik, dan dokumentasi.
Latihan dilakukan secara bertahap, dimulai dari reading naskah, pendalaman karakter, hingga pengaturan gerak panggung. Seiring berjalannya waktu, latihan menjadi semakin intensif untuk memastikan setiap adegan dapat ditampilkan dengan maksimal. Gladi bersih dilaksanakan menjelang hari pementasan guna menyempurnakan keseluruhan penampilan.
Tantangan yang Dihadapi
Dalam perjalanan persiapan selama kurang lebih tujuh bulan, berbagai tantangan muncul. Salah satunya adalah penyesuaian durasi pementasan agar sesuai dengan ketentuan waktu. Beberapa adegan harus diringkas tanpa mengurangi makna utama cerita.
Selain itu, revisi dari guru pembimbing juga menjadi bagian penting dari proses evaluasi. Masukan terkait ekspresi, penghayatan peran, serta tata panggung membantu meningkatkan kualitas pementasan secara keseluruhan.
Tantangan lainnya adalah membagi waktu di tengah padatnya jadwal akademik. Menjelang bulan Februari, berbagai tugas dan ujian mulai berdatangan. Namun dengan kerja sama dan manajemen waktu yang baik, seluruh anggota kelas mampu menjalankan tanggung jawabnya masing-masing.
Hari Pementasan
Pada hari pelaksanaan, seluruh usaha dan kerja keras terbayar. Pementasan berjalan dengan lancar dan mendapat apresiasi dari para guru serta orang tua yang hadir. Pesan tentang arti persahabatan sejati dan pengorbanan tersampaikan dengan kuat melalui setiap adegan yang dimainkan.
Melalui pengalaman ini, kelas XII C1 belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh proses panjang yang dilalui bersama. Pagelaran ini menjadi momen berharga yang mempererat kebersamaan serta meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh anggota kelas.
Dokumentasi foto-foto kegiatan:



