Esai Mgr. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta, O.Carm – Kelompok 6

Bapa yang lembut dan penuh kasih

Mgr. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta atau yang lebih akrab disapa Mgr. Hadisumarta dikenal sebagai pribadi yang sederhana, lembut, rendah hati, bijaksana, serta penuh kasih. Dahulu, ia merupakan seorang Uskup Malang, yang kemudian dipindah tugaskan menjadi Uskup Manokwari-Sorong, Papua Barat. Pemindahan ini tidak berasal dari sebuah paksaan, melainkan datang dari keinginan dan kesediaan dirinya sendiri. Mgr. Hadisumarta sadar bahwa kisaran tahun 1988 tidak ada orang yang โ€œmau pindahโ€ ke Manokwari-Sorong karena daerah tersebut belum semaju daerah lain di luar Papua. Dari sinilah hati Mgr. Hadisumarta justru tergerak untuk berbelas kasih. Ia siap untuk melayani dan menghadapi situasi yang ada di sana.

Selama menjadi uskup di Manokwari-Sorong, ia tentu menghadapi tantangan yang kompleks. Tetapi dengan kebijaksanaan yang ia miliki, ia mampu melalui tantangan tersebut satu persatu sampai akhirnya ia dapat membawa pengaruh besar bagi umat Katolik di sana. Pada tahun 1991, ia mengundang Suster Ordo St Fransiskus (OSF) untuk berkarya di Papua. Tidak hanya itu, pada 1998, ia mengundang Suster JMJ untuk turut terlibat dalam karya pelayanan di Papua. Ia mendirikan asrama-asrama di Sorong. Ia juga memperbaiki dan memandirikan gereja-gereja yang ada dalam semua aspek menggereja. Tidak hanya dalam lingkup Katolik, ia juga sering berdialog dengan orang-orang Papua untuk mencari tahu dan memahami budaya setempat yang tentu berbeda dengan budaya yang ia kenal selama tinggal di Pulau Jawa.ย 

Mgr. Hadisumarta juga dikenal sebagai sosok yang amat mencintai Kitab Suci, bahkan ia disebut-sebut sebagai ahli dalam menafsirkan Kitab Suci. Keahlian tersebut ia wujudkan untuk berkarya, yang tertuang dalam bentuk homili. Selama hidupnya, ia telah menulis lebih dari 100 homili mulai tahun 2009 hingga 2022, yang dapat diakses secara daring melalui website Iman Katolik. Dari sinilah kita tahu bahwa karya pelayanannya tidak hanya terbatas untuk masyarakat Papua saja tetapi juga untuk seluruh umat Katolik.

Mgr. Hadisumarta tidaklah berperan dalam sebuah perjuangan fisik, melainkan berperan dalam perjuangan iman. Ia memperjuangkan iman Katoliknya. Ia memperjuangkan orang-orang di Manokwari dan Sorong yang beragama Katolik agar mereka lebih dekat dan lebih mengenal Tuhan serta sesama. Semasa hidupnya, Mgr. Hadisumarta telah memberikan banyak contoh yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong rasa kepeduliaan dan semangat mengasihi antar sesama manusia. Tidak lupa, ia juga mengingatkan betapa pentingnya menerima perbedaan yang ada.ย 

Selama tinggal di Papua, ia memilih untuk belajar dan memahami masyarakat lokal. Ia menyadari bahwa orang Papua memiliki harga diri yang tinggi dan cenderung tertutup terhadap pendatang. Maka dari itu, ia menanamkan konsep bahwa โ€œbudayaโ€ serta cara berpikir mereka bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus ditempatkan dalam dialog dengan iman dan kebangsaan. Ia mengajak masyarakat Papua untuk berpikir lebih luas dan lebih Indonesia, sekaligus menghilangkan sekat yang memisahkan mereka dengan saudara-saudara sebangsa dari daerah lain. Dengan pendekatan tersebut, ia secara perlahan berhasil menjembatani kesenjangan.ย 

Dari kisahnya dapat disimpulkan bahwa ia adalah seorang uskup yang rela menjadi pionir di daerah terpencil yang mampu mentransformasikan hati dan pikiran banyak orang. Hal ini sesuai dengan nilai dalam Kitab Suci, yaitu nilai kasih dan kelembutan hati, yang secara tidak langsung juga bersinggungan dengan keutamaan Vinsensian yaitu kelembutan hati dan mati raga. Buktinya, ia mampu membuka diri kita kepada semua orang dan menjalin relasi yang baik dengan mereka, mampu menyerahkan diri pada kehendak Tuhan, serta mampu menunjukkan kasih yang penuh gairah kepada Allah dan orang-orang yang membutuhkan.

Categories:

Tags:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *