23 – Pagelaran Drama “Herman Fernandez – No Greater Love”

Sebagai bagian dari ujian praktik Pagelaran Peserta Didik Kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026, setiap kelas diberi kesempatan untuk menampilkan drama yang mengangkat kisah tokoh Katolik inspiratif. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi penilaian akademik, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memaknai nilai-nilai kehidupan yang dapat diterapkan dalam keseharian.

Kelas XII C1 yang beranggotakan 39 siswa akhirnya sepakat memilih kisah hidup Herman Fernandez sebagai tema utama pementasan. Sosok ini dikenal melalui keberanian serta ketulusan hatinya dalam berkorban demi sahabat. Nilai kesetiaan, solidaritas, dan kasih yang tercermin dari kisah hidupnya menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada penonton. Para siswa berharap pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah refleksi tentang arti persahabatan dan kepedulian terhadap sesama.

Awal Perencanaan

Perjalanan persiapan dimulai pada Agustus 2025. Seluruh siswa terlibat dalam diskusi terbuka untuk menentukan tokoh yang paling tepat diangkat. Proses ini berlangsung dengan baik karena setiap siswa memiliki pandangan masing-masing. Setelah melalui pertimbangan dan pemungutan suara, pilihan akhirnya jatuh pada Herman Fernandez karena kisahnya dianggap keren, terutama mati saat peperangan membuatnya menarik.

Setelah tokoh ditentukan, para direktor, yaitu Giselle, Owen, dan Steven mulai merancang konsep pementasan. Mereka menyusun alur cerita, menentukan sudut pandang, dan membangun konflik dramatik yang mampu menyentuh emosi penonton. Penulisan naskah dilakukan dengan mengacu pada berbagai sumber, lalu dibacakan bersama untuk memastikan dialog terasa hidup, alami, dan mudah dipahami oleh semua pemeran maupun penonton

Proses Produksi

Tahap produksi dimulai dengan pembagian peran melalui seleksi internal. Setiap siswa mendapatkan tanggung jawab sesuai minat dan kemampuannya, baik sebagai pemeran di atas panggung maupun anggota tim pendukung seperti tata panggung, properti, kostum, musik, dan dokumentasi.

Latihan berlangsung secara bertahap dan terstruktur. Sesi awal difokuskan pada pemahaman naskah dan karakter, kemudian berkembang ke latihan ekspresi, blocking panggung, serta penyelarasan antar pemeran. Seiring mendekati hari pementasan, latihan menjadi semakin intensif demi memastikan setiap adegan tampil padu. Gladi bersih dilakukan sebagai simulasi akhir untuk menyatukan seluruh elemen pertunjukan.

Tantangan yang Dihadapi

Selama kurang lebih tujuh bulan persiapan, kelas XII C1 menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang paling menonjol adalah menyesuaikan durasi pementasan tanpa mengurangi kekuatan pesan cerita. Beberapa adegan perlu disederhanakan agar tetap efektif namun tidak kehilangan maknanya.

Masukan dari guru pembimbing juga menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan. Evaluasi terkait penghayatan peran, ekspresi, serta tata panggung membantu siswa memahami detail yang perlu diperbaiki.

Selain itu, siswa harus pandai membagi waktu di tengah padatnya jadwal akademik. Menjelang bulan Februari, tugas dan ujian semakin intens. Meski demikian, kerja sama dan komunikasi yang baik membuat seluruh anggota kelas mampu menjaga komitmen hingga akhir proses.

Hari Pementasan

Ketika hari pementasan tiba, seluruh persiapan panjang tersebut terwujud dalam sebuah pertunjukan yang berjalan lancar. Penampilan kelas XII C1 mendapat apresiasi dari guru dan orang tua yang hadir. Pesan tentang arti persahabatan sejati dan pengorbanan tersampaikan dengan kuat melalui akting dan penghayatan para pemeran.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan juga tentang proses kebersamaan yang dilalui. Pagelaran tersebut menjadi momen yang mempererat hubungan antar siswa sekaligus meninggalkan kenangan mendalam yang akan terus dikenang.

Dokumentasi:

Categories:

Tags:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *