Meneladani Nilai Kasih dan Kelembutan Hati Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta di Tengah Masyarakat Masa Kini

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, masyarakat kita sering dihadapkan pada sikap individualisme, kompetisi berlebihan, serta menurunnya rasa peduli terhadap sesama. Dalam konteks ini, nilai kasih, kelembutan hati, kepedulian, dan penerimaan perbedaan yang dihidupi Mgr. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta tetap sangat relevan untuk dijadikan pedoman hidup masa kini. Meskipun tidak terlibat dalam perjuangan fisik, karya dan pengabdiannya di Papua menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat lahir dari cinta kasih yang tulus dan penghargaan pada martabat manusia.
Kasih merupakan dasar dari kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Dalam Alkitab, Matius 22:39 menyatakan, โKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.โ Ajaran ini menegaskan bahwa memperhatikan kesejahteraan orang lain sama pentingnya dengan memperhatikan diri sendiri. Sayangnya, kehidupan modern yang kompetitif sering membuat orang lebih fokus pada diri sendiri. Nilai kasih dapat menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.
Kelembutan hati juga sangat dibutuhkan, terutama dalam menghadapi perbedaan pendapat dan konflik. Orang yang berhati lembut cenderung mengedepankan empati dan kesabaran, bukan kekerasan. Nilai ini tercermin dalam cara Mgr. Hadisumarta mendampingi masyarakat Papua: ia tidak memaksakan budaya luar, melainkan belajar memahami budaya setempat terlebih dahulu sebelum memberi pendampingan pastoral. Hal ini menunjukkan penghargaan pada martabat lokal dan menjadi teladan nyata penerimaan perbedaan.
Indonesia merupakan negara dengan lebih dari 1.300 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah (Badan Pusat Statistik, 2020). Dalam masyarakat yang majemuk ini, sikap saling menerima sangat penting untuk menjaga persatuan. Sayangnya, laporan tahunan Setara Institute (2023) mencatat masih terjadi lebih dari 100 kasus intoleransi berbasis agama sepanjang tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai keterbukaan terhadap perbedaan belum sepenuhnya terinternalisasi.
Padahal, penghargaan terhadap keberagaman dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat (1): โSetiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanyaโฆโ Menghidupi nilai penerimaan perbedaan berarti sekaligus menjalankan amanat konstitusi. Mgr. Hadisumarta memberi teladan nyata dengan mengajak masyarakat Papua untuk berpikir lebih luas tanpa harus meninggalkan budaya mereka sendiri.
Kepedulian sosial pun semakin penting di era digital. Menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023, kasus perundungan daring di kalangan remaja meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menandakan berkurangnya empati dalam interaksi sosial, terutama di media sosial. Menumbuhkan rasa peduli dapat menjadi solusi untuk membangun ruang digital yang lebih sehat dan ramah.
Untuk menanamkan nilai kasih dan kepedulian, pendidikan karakter di sekolah sangat penting. Kurikulum Merdeka saat ini menekankan Profil Pelajar Pancasila yang salah satunya adalah โberkebinekaan globalโ dan โgotong royongโ. Guru dapat membiasakan siswa bekerja dalam kelompok lintas budaya, melakukan proyek sosial, dan melatih empati lewat kegiatan pelayanan masyarakat.
Selain itu, ruang dialog antar agama dan antar etnis juga perlu diperluas. Forum lintas iman di tingkat lokal dapat menjadi sarana memperkuat saling pengertian dan mengikis prasangka. Di dunia maya, pengguna media sosial dapat meneladani nilai kasih dengan mengunggah konten positif, memberikan dukungan moral kepada yang mengalami kesulitan, atau membantu penggalangan dana bagi korban bencana. Dengan begitu, teknologi menjadi alat untuk memperluas jangkauan kepedulian.
Nilai kasih, kelembutan hati, kepedulian, dan penerimaan perbedaan yang diwariskan Mgr. Hadisumarta bukanlah nilai usang, melainkan justru kebutuhan utama masyarakat modern. Dalam dunia yang kian individualistis dan sarat konflik, kehadiran kasih merupakan kekuatan transformatif yang mampu menciptakan perdamaian. Teladan beliau membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kekuasaan atau kekerasan, tetapi dapat dimulai dari hati yang mengasihi. Dengan meneladani nilai-nilai ini, kita turut membangun bangsa yang bersatu, adil, dan berkeadaban.
