
Pada pagelaran No Greater Love: The Tale of Herman Fernandez saya berperan sebagai rakyat dan pasukan Indonesia. Berperan sebagai rakyat membuat saya lebih merefleksikan diri saya mengenai kesederhanaan, sesuai dengan salah satu nilai vinsensian. Kehidupan kota yang dinamis dan cepat membuat saya lupa mengenai hal-hal kecil yang berharga. Dengan mempelajari kehidupan desa untuk mempersiapkan peran ini, saya merasa lebih menghargai kehidupan desa yang sederhana namun bahagia.

Selain itu, saya juga menjadi pasukan negara Indonesia. Menjadi Pasukan Indonesia yang berjuang membela negara membuat rasa nasionalisme saya bangkit. Saya sadar mengenai pentingnya rasa rela berkorban untuk negara, sesuai dengan nilai sila pancasila ke-3 “Persatuan Indonesia.” Melalui pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa menjaga persatuan bukan hanya sekadar slogan, melainkan tanggung jawab nyata setiap warga negara. Dalam setiap tugas yang dijalankan, saya belajar untuk mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kebersamaan, solidaritas, dan semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Saya juga menyadari bahwa macam-macam suku, agama, dan budaya di Indonesia bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dijaga dalam bingkai persatuan. Saat adegan perang, saya juga merasakan bagaimana mengerikannya kondisi perang dan banyaknya korban jiwa. Saya jadi semakin menghargai para pahlawan yang telah rela berkorban demi mempertahankan Negara Republik Indonesia.

Selain menjadi pemeran, saya juga menjadi anggota divisi musik. Saya membantu dalam pemilihan lagu dan aransemen. Saya juga berperan dalam bermain alat musik untuk background musik. Kesulitan yang dihadapi adalah alat perekam yang sering error. Namun, pada akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Solusi yang diambil adalah melakukan pengecekan dan uji coba alat perekam secara berkala sebelum proses latihan maupun pementasan dimulai. Kami juga menyiapkan perangkat cadangan sebagai antisipasi jika terjadi kendala teknis secara tiba-tiba saat proses merekam.

Saya juga sempat membantu dalam pembuatan dekorasi. Saya membantu membuat dekorasi seperti cangkul, rumput, dan tembak mainan. Dalam proses pembuatan dekorasi seperti cangkul, rumput, dan tembak mainan, kami menghadapi kendala berupa keterbatasan bahan, waktu yang singkat, serta kesulitan membentuk dan mengecat beberapa properti agar terlihat rapi dan realistis. Beberapa bahan juga sempat rusak sehingga harus diperbaiki kembali. Untuk mengatasinya, kami membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing, dan memanfaatkan bahan sederhana yang lebih mudah dibentuk.

Setelah pagelaran, kelas kami melakukan all you can eat di restoran dekat sekolah. Kami merayakan selesainya UPRAK ini dengan baik dan hasil yang memuaskan. Saya merasa sangat senang karena akhirnya bisa selesai. Kami merasa lega dan semakin akrab satu sama lain karena UPRAK ini.

Kesimpulannya, dari drama UPRAK hari ini, saya benar-benar belajar mengenai persahabat, kasih tanpa syarat, dan pengorbanan. Tidak hanya di cerita, namun nilai-nilai ini juga terasa dalam proses mempersiapkannya. Dalam persiapan UPRAK, dibutuhkan pengorbanan dan rasa saling mengasihi satu sama lain untuk menyelesaikan proyek ini. Menurut saya, pengalaman ini sangat berkesan dan akan selalu saya ingat seumur hidup saya.
