No Greater Love: A Performance of Friendship
Sebagai syarat kelulusan siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya, kami siswa dan siswi kelas XII diwajibkan untuk membuat sebuah penampilan drama. Drama harus menceritakan tokoh Katolik asal Indonesia, dan kelas kami memilih Herman Fernandez sebagai karakter utama penampilan kami. Penampilan kami siapkan dari September hingga Februari. Dalam rentang waktu tersebut, kami tidak hanya mempersiapkan naskah dan latihan, tetapi juga membangun komitmen, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab sebagai satu komunitas yang memiliki tujuan yang sama.
No Greater Love berfokus pada pertemanan Herman Fernandez dan Alex Rumambi, dan meng-highlight pengorbanan Herman untuk sahabatnya. Kisah ini mengingatkan kami bahwa cinta sejati bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang sering kali menuntut keberanian dan kerelaan untuk menempatkan orang lain di atas diri sendiri. Herman Fernandez adalah tokoh yang mengajarkan kita akan pengorbanan, kasih, dan kebebasan. Nilai-nilai tersebut terasa semakin relevan bagi kami sebagai siswa yang sedang berada di persimpangan menuju masa depan, belajar untuk memilih dengan hati nurani dan bertanggung jawab atas setiap keputusan.
Selain nilai yang saya dapatkan dari tokoh yang kami pilih, saya juga mendapatkan banyak pelajaran dari proses yang kami jalani bersama sebagai satu kelas. Kami bekerja sama sebagai satu kesatuan untuk dapat membuat penampilan ini. Perbedaan karakter, pendapat, dan cara kerja sempat menjadi tantangan, tetapi justru di situlah kami belajar arti kompromi dan saling memahami. Sebagai aktor dan anggota Sie Musik, saya harus belajar mengikuti arahan dari kedua sutradara, menerima kritik dan terus memperbaiki diri. Proses latihan yang panjang mengajarkan saya bahwa hasil yang baik lahir dari ketekunan dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Penugasan ini jadi media untuk semakin mengenal teman-teman sekelas yang saya belum sempat akrab. Saya mulai berbicara dengan teman-teman yang sebelumnya saya tidak pernah bicara, dan semakin dekat dengan mereka. Di balik dialog dan adegan yang kami tampilkan di atas panggung, ada cerita-cerita kecil tentang tawa saat latihan, rasa lelah yang dibagi bersama, dan dukungan ketika salah satu dari kami merasa tidak percaya diri. Tanpa kami sadari, proses ini membentuk kenangan yang akan kami bawa setelah lulus nanti.
Penampilan kami mengisahkan tentang sebuah pertemanan, dan dari sana, tumbuh juga ikatan pertemanan yang lebih kuat dari murid-murid XII C1. Drama ini bukan hanya tentang Herman Fernandez dan pengorbanannya, tetapi juga tentang kamiโtentang bagaimana kami belajar mencintai tanpa pamrih, bekerja tanpa mengutamakan ego, dan melangkah bersama sebagai satu keluarga. Melalui No Greater Love, kami menyadari bahwa tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang rela berkorban, dan nilai itulah yang ingin kami bawa dalam perjalanan hidup kami selanjutnya.



