04 – Pagelaran Drama “Herman Fernandez – No Greater Love”

*Pada waktu penyusunan naskah:

*Pada waktu latihan:

ย  ย ย 

*Pada waktu foto (sie scriptwriter):

*Pada waktu pagelaran:

ย  ย  ย 

*Selesai pagelaran:

ย 

ย  ย 

*Ringkasan secara singkat akan tantangan dan cara saya mengatasinya berdasarkan foto-foto di atas adalah:

  1. Pembuatan naskah. Tantangan: Harus menemukan kata-kata, bahasa, dan dialog yang dapat menggambarkan karakter dengan penuh penjiwaan dan karakter. Solusi: Berunding dan berkonsultasi dengan guru penguji uprak secara berkala.
  2. Uji coba dengan sie acara. Tantangan: Karakter dan penjiwaan kurang, akting masih terlalu kaku. Solusi: Melatih raut wajah dan terus berlatih agar akting dapat disesuaikan dengan karakter yang saya mainkan.
  3. Latihan choir. Tantangan: Harus hafal nada dan menyesuaikan nada pertama dengan teman-teman saya lainnya yang ikutan bernyanyi. Solusi: Mendengarkan lagu dan pencontohan tangga nada secara berkala ditambah dengan latihan mandiri di rumah.
  4. Latihan di Francis Room. Tantangan: Harus menghafal kalimat pembukaan MC bahasa Jawa krama lugu dengan aksen yang benar, penataan properti yang belum sesuai. Solusi: Melatih dan mengulang-ulang dialog agar dapat melekat dalam pikiran saya; melakukan pembagian properti untuk masuk dan keluar panggung.
  5. Gladi kotor dan bersih. Tantangan: Kesusahan dalam berganti-ganti kostum karena jeda peran saya yang sangat cepat. Solusi: Mereview pembagian keluar/masuk panggung, properti yang harus dimasukkan/dikeluarkan, dan mengurangi variasi kostum (dengan hanya berganti pakaian atas agar memiliki waktu yang cukup untuk keluar/masuk).
    _________________________________________________________________

Beyond the XII-C1’s Backstage

A. Pengantar

Selama kelas XII semester ganjil yang lalu hingga tanggal 13 Februari kemarin, saya merancang dan menjalani kegiatan uprak bersama dengan teman-teman kelas saya yang lain. Suasana kali ini terasa sangat berbeda dari pagelaran P5 yang telah saya lalui pada kelas XI kemarin, apalagi kelas saya mendapatkan predikat Best Performance. Dalam perjalanan yang cukup panjang hingga sampai pada titik ini, tidak mudah rasanya untuk memberikan sebuah penampilan yang harus memiliki penjiwaan peran, penataan panggung dan properti, beserta pesan yang dibawakan dalam tampilan kelas saya.

Saya merasa senang dapat turut ambil bagian sebagai scriptwriter, MC pembukaan, dan pemeran karakter sampingan dalam pagelaran. Sebagai pemeran karakter sampingan, saya memerankan pelajar HIK, tentara pelajar Indonesia, budak romusha, dan bagian dari choir/penyanyi XII-C1. Bertepatan dengan tugas saya sebagai scriptwriter, saya pun penasaran dan mencari tahu bagaimana keteladanan dari seorang Herman. Setelah saya membaca biografi hidupnya, saya menemukan fakta bahwa pada usia yang masih sangat muda (sekitar 20 tahun dan masih berstatus pelajar), ia langsung turun ke medan perang untuk membela bangsa Indonesia. Herman bukanlah seorang tentara profesional, melainkan anggota Tentara Pelajar Indonesia. Sangat disayangkan bahwa Herman gugur sebelum Indonesia benar-benar aman dari ancaman penjajahan, sehingga tidak berkesempatan menyaksikan hasil kemerdekaan yang telah diperjuangkannya. Nilai keteladanan yang dapat saya ambil dari sosok Herman adalah pengorbanannya yang tulus demi bangsa dan negara. Tentunya, hal ini sejalan dengan nilai Vinsensian penyelamatan jiwa-jiwa (zelus animarum), yaitu semangat untuk mengutamakan kebaikan dan keselamatan orang lain, terutama demi kepentingan yang lebih besar meskipun Herman harus meninggalkan orang tuanya dan mengorbankan nyawanya.

B. Tantangan yang Saya Hadapi

Selama proses latihan kegiatan pagelaran karya ini, saya mengalami berbagai tantangan yang cukup menguji komitmen dan kedisiplinan saya. Tantangan pertama adalah pengaturan waktu antara kegiatan akademik sekolah, waktu pribadi untuk belajar dan mengerjakan tugas, waktu istirahat, serta latihan di luar jam sekolah yang sangat padat. Hal ini seringkali membuat saya kebingungan dalam menentukan prioritas akan apa yang harus saya kerjakan terlebih dahulu. Tantangan berikutnya adalah menghafal dialog menggunakan bahasa Jawa dengan ragam yang berbeda, yaitu bahasa Jawa krama alus saat bertugas sebagai MC dan bahasa Jawa ngoko lugu saat memerankan siswa HIK. Selain itu, saya juga harus menjalankan lebih dari satu peran, yaitu sebagai MC, siswa HIK, budak romusha, barisan tentara pelajar, dan choir, yang masing-masing memiliki karakteristik serta penjiwaan yang berbeda (bahkan bertolak belakang). Dalam memerankan kelima karakter sampingan tersebut, saya merasa kesulitan dalam memerankan pekerja romusha karena membutuhkan koordinasi antara gerakan lengan, punggung, dan kaki agar terlihat baik dan nyata adanya seperti para pekerja tambang. Selain itu, Kondisi fisik dan cuaca yang kurang mendukung juga menjadi kendala tersendiri karena saya sempat sakit dua kali, yaitu karena maag dan sakit tenggorokan, sehingga tidak dapat mengikuti beberapa jadwal latihan di luar sekolah.

C. Solusi yang Saya Lakukan

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, saya berusaha menerapkan beberapa solusi yang dapat membantu saya tetap bertanggung jawab dalam menjalankan setiap peran. Saya belajar bekerja dengan cepat dan efisien dalam mengerjakan tugas akademik dengan memanfaatkan waktu senggang di sekolah tanpa menunda-nunda pekerjaan, serta menggunakan waktu di rumah untuk belajar menghadapi berbagai penilaian yang berlangsung di akhir Januari hingga Februari. Karena saya beberapa kali tidak dapat mengikuti latihan di luar sekolah, saya berinisiatif untuk melakukan latihan mandiri di rumah, baik untuk menghafal dialog maupun berlatih bernyanyi sebagai bagian dari choir, sehingga saat latihan bersama di sekolah saya tetap dapat mengikuti alur dan tidak menghambat penampilan kelompok. Dalam memahami bagaimana gerakan ayunan beliung dan koordinasi tubuh, saya pun menyempatkan waktu bersama dengan pemeran romusha lainnya untuk menonton tutorial video YouTube tentang bagaimana cara mengeksekusi gerakan yang benar berdasarkan pekerja kebun sungguhan. Selain itu, saya juga berusaha cermat mengikuti setiap saran dan revisi dari bapak/ibu guru penilai, serta aktif membaca informasi di grup WhatsApp kelas agar tidak ada perubahan yang terlewatkan, baik terkait stage blocking, posisi keluar-masuk panggung, tempat ganti, maupun properti yang harus dibawa saat pementasan berlangsung.


D.
Nilai-Nilai Keteladanan

Dari pengalaman saya selama berlatih uprak dalam dua bulan terakhir ini, saya dapat menggali nilai-nilai keteladanan Vinsensian. Dua nilai keteladanan Vinsensian paling menonjol yang saya praktikkan/dapatkan selama menjalani proses ujian praktik ini adalah mati raga (mortificatio), melalui kesediaan berkorban waktu dan tenaga, serta disiplin demi mengikuti latihan di dalam dan luar jam pelajaran, serta kerendahan hati (humilitas) karena meskipun telah mengikuti latihan berkali-kali, saya belum sepenuhnya dapat memerankan peran saya sebagai romusha dengan teknik yang tepat, sehingga perlu kerendahan hati untuk terus belajar sampai saya mampu melakukannya dengan benar. Melalui keteladanan Herman Fernandez, saya pun juga diajak untuk menumbuhkan semangat rela berkorban, peduli terhadap sesama, dan berani bertindak demi kebaikan bersama, sejalan dengan nilai-nilai Vinsensian yang mengajarkan kasih, pelayanan, dan penyelamatan jiwa-jiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui seluruh proses latihan dan persiapan pagelaran ini, saya juga memperoleh banyak hal positif yang sangat berharga bagi perkembangan diri saya. Saya belajar untuk mendengarkan dan mengutarakan pendapat dengan baik dalam diskusi kelompok, serta meningkatkan kemampuan penguasaan gestur, olah suara, dan penguasaan panggung sebagai seorang pemeran. Saya juga belajar mempertanggungjawabkan setiap peran yang telah dipercayakan oleh sutradara kepada saya dengan mendalami karakter yang berbeda-beda. Selain itu, saya semakin terlatih untuk bersikap disiplin dan rela berkorban demi kepentingan bersama. Yang tidak kalah penting, saya merasakan kebersamaan yang semakin erat dengan teman-teman dalam momen-momen terakhir kami di SMA St. Louis 1 Surabaya, yang menjadi kenangan berharga sebelum kami melangkah ke tahap kehidupan berikutnya.

E. Penutup

Pada akhirnya, pengalaman mengikuti ujian praktik pagelaran karya pertunjukan drama ini tidak hanya menjadi sarana penilaian akademik, tetapi juga menjadi proses pembelajaran hidup yang membentuk karakter saya. Keteladanan Herman Yoseph Fernandez yang penuh pengorbanan dan keberanian, serta nilai-nilai Vinsensian yang saya hidupi selama proses ini, mendorong saya untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan berani berkontribusi bagi sesama. Saya berharap semangat yang saya pelajari selama kegiatan uprak ini dapat terus saya bawa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

John 15:13: “Greater love has no one than this, that someone lay down his life for his friends.”

Categories:

Tags:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *